Definisi Kafir:part 1


Banyak dari rekan muslim maupun non-muslim yang masih salah kaprah menafsirkan kata KAFIR. Mayoritas beranggapan bahwa kata tersebut merupakan sebuah olok-olok dan penghinaan luar biasa terhadap dirinya. Padahal kata kafir adalah pernyataan dari Allah SWT -sang pencipta seluruh alam semesta beserta isinya- yang tertuang dalam Al Qur’an dan ditujukan bagi para pengingkar-Nya.
Kafir atau kuffar, dalam bahasa Arab secara harfiah berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Lawan katanya adalah syakir, yaitu orang yang bersyukur. Kata kafir dipakai oleh Islam sebagai rujukan bagi orang-orang yang menutup diri, menolak serta mengingkari segala nikmat dari Allah SWT.
Jadi, menurut syariat Islam, manusia kafir itu bermakna:
1. Orang yang tidak beragama Islam atau orang yang tidak mau membaca syahadat.
2. Orang Islam yang tidak mau menjalankan ajaran agamanya sendiri seperti shalat, puasa, atau membayar zakat.
Dalam Al-Qur’an, kata kafir terbagi menjadi beberapa point, yaitu:
  • Kufur at-tauhid (menolak tauhid), ditujukan kepada mereka yang menolak bahwa Tuhan itu satu.
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.” (QS Al Baqarah, 2:6)
  • Kufur al-ni’mah (mengingkari nikmat), ditujukan kepada mereka yang tidak mau bersyukur kepada Tuhan.
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (la takfurun).” (QS Al Baqarah, 2:152)
  • Kufur at-tabarri (melepaskan diri).
  • Kufur al-juhud (mengingkari sesuatu).
“…maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar (kafaru) kepadanya.” (QS Al Baqarah, 2:89)
  • Kufur at-taghtiyah (menanam/mengubur sesuatu).
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani (kuffar).” (QS Al Hadid, 57:20)
Intinya, jika ternyata memang kafir lalu kenapa harus marah dan tersindir? Semoga saya dan rekan muslim lainnya tidak gampang menuding dan juga terhindar dari cap laknat ini. Amin.

Salam Ukhuwah

Tiada ulasan: